Search Engine

Tampilkan postingan dengan label intelijen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label intelijen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Maret 2010

Sri Mulyani di Tengah Perang Intelijen

Setelah kasus Bibit-Chandra usai pada akhir bulan November 2009, publik kembali disuguhi berita tentang polemik Century. Sebagaimana kasus Bibit-Chandra, kasus Century diduga berlangsung paling lama 2-3 bulan. Kasus besar lainnya siap menenggelamkan kasus Century, yaitu evaluasi program 100 hari pemerintahan SBY Jilid 2. Oleh karena itu, pada bulan Februari 2009, kasus Century diduga akan mencapai klimaksnya.

Publik mengetahui bahwa sasaran besar (big fishes) kasus Century adalah SBY-Boediono-Sri Mulyani. Sri Mulyani dan Boediono yang merupakan ketua dan anggota KSSK dan KK dianggap paling bertanggungjawab terkait bailout Bank Century. SBY dianggap ikut bertanggungjawab karena kemungkinan besar mengetahui bahkan bisa jadi ikut memberikan arahan keputusan bailout Bank Century.

Diantara ketiga sasaran besar di atas, Sri Mulyani dianggap merupakan target paling empuk. Setidak-tidaknya ada 3 alasan yang mendasarinya, yaitu alasan teknis, taktis, dan strategis.

Secara teknis, sebagai ketua KSSK dan KK, Sri Mulyani berperan besar atas keputusan bailout Bank Century. Perdebatan teknis terkait penetapan Bank Century berdampak sistemik terus menghiasi headline media massa dalam sebulan terakhir. Pertanyaan besarnya kemudian adalah apakah keputusan KSSK/KK tersebut bisa dipidanakan (dikriminalisasikan)? Wakil ketua KPK, Bibit Samad Riyanto, menyatakan bahwa jika keputusan tersebut ada niat untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, maka keputusan bailout Century tersebut baru bisa dipidanakan.

Secara taktis, pertempuran (battle) lebih banyak membahas bagaimana pasukan di medan pertempuran bertempur dengan cara-cara tertentu untuk mencapai kemenangan militer. Membaca polemik Century, bisa kita lihat dengan kacamata strategi perang. Ical cs sebagai ketua umum Golkar mempunyai pasukan elit yang kuat dan jam terbang tinggi dalam perang (politik). Sedangkan Sri Mulyani? Dengan segala kelebihannya, dibandingkan dengan SBY dan Boediono, Sri Mulyani dianggap sasaran terlemah. Mengapa?

Pertama, Sri Mulyani tidak didukung kekuatan politik. SBY-Boediono adalah dwi tunggal dengan dukungan lebih dari 60% pemilih dan back up kuat dari Partai Demokrat dan Partai Koalisi. Sedangkan Sri Mulyani adalah profesional sejati yang sudah teruji kinerjanya dalam bidang ekonomi (makro), tetapi tidak punya jam terbang dalam percaturan politik.

Kedua, dengan segala kerendahan hati dan permohonan maaf, Sri Mulyani adalah seorang wanita. Secara umum, wanita kurang mampu memperhitungkan atau bahkan tak mau tahu dengan segala perhitungan yang mungkin akan terjadi padanya. Mereka tak mau tahu tentang logika yang menyeluruh dan terlalu banyak perhitungannya. Mereka sering menggunakan perasaannya daripada logikanya. Secara psikologis, wanita juga mudah ditekan dan dipengaruhi, terutama dengan menyentuh perasaannya. Selama ini, wanita sering dijadikan sasaran pertama sebuah investigasi. Sayangnya, teknik ini sering berhasil. Nah, apakah Sri Mulyani tergolong wanita biasa, sebagaimana uraian di atas?

Pancingan yang dilakukan Ical cs, dengan mengirim “pasukan pemancing“ yang bernama Bambang Soesatyo langsung dilawan dengan “kekuatan penuh“ pasukannya. Sri Mulyani terjebak oleh permainan strategi perang Ical cs. Pasukan pemancing memang bertugas memancing lawan untuk turun dengan kekuatan penuh dan masuk jebakan yang sudah disiapkan. Pasukan pemancing memang akan dengan gampang ditundukkan. Namun begitu masuk jebakan, biasanya dibelakang pasukan pemancing ada pasukan pemukul yang siap “memangsa” ikan yang sudah masuk perangkap. Selanjutnya pasukan pembersih akan memastikan bahwa tidak ada lawan (ikan) yang tersisa.

Bambang Soesatyo mampu memerankan sebagai pasukan pemancing profesional. Repotnya, Sri Mulyani terjebak dengan mengerahkan kekuatan penuh untuk menyerang pasukan pemancing. Pasukan pemukul pasti tersenyum melihat umpannya dimakan lawan. Jika mereka melihat bahwa kekuatan lawan bisa ditumpas, maka mereka akan bergerak menyerang. Namun jika ia memandang bahwa kekuatannya tidak bisa menandingi kekuatan lawan, mereka akan mencari strategi lain. Sun Tzu mengatakan,“Know your enemy, know yourself; your victory will never be endangered.

Sri Mulyani memang cemerlang, namun beliau masih amatir di dunia politik yang penuh intrik, penuh jebakan, penuh akal licik, dan berbagai strategi intelijen tingkat tinggi yang kurang dikuasai Sri Mulyani.

Ketiga, Sri Mulyani dikenal sangat pemberani dan punya pendirian kuat. Sri berani meminta pencabutan penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham PT Bumi Resources Tbk pada 7 Oktober 2008 meskipun harus berhadapan dengan Ical dan JK. Konon Sri Mulyani mengancam mengundurkan diri ketika “ditekan” presiden. Dalam kasus Century, Sri adalah kunci pembuka kotak pandora. Berhasil menundukkan Sri akan membuat posisinya sangat terjepit dan ada perasaan dikorbankan. Kondisi ini bisa mendorong Sri membuka kotak pandora Century. Ketika Sri Mulyani berhasil ditundukkan, maka diharapkan beliau akan bernyanyi dengan nyaring. Pertempuran (battle) Century akan berubah menjadi perang (war).

Secara strategis, kasus Century bisa dikatakan sebagai bagian dari perang (war) yang berujung pada 2014 (pemilu legislatif dan Pilpres). Inilah perang panjang antara kekuatan elit politik yang membutuhkan strategi cerdas dan matang. Perang yang melibatkan dua kekuatan besar politik di Indonesia. Golkar (didukung PDIP) versus Demokrat. Golkar jangan hanya memandang kekuatan Ical, tetapi perlu juga dilihat siapa saja orang-orang di belakang Ical. Merekalah yang sebenarnya memimpin perang intelijen dengan Demokrat di bawah kepemimpinan SBY.

Mao Zedong mengatakan,“Perang adalah kelanjutan dari politik. Dalam hal ini, perang adalah politik dan perang itu sendiri merupakan salah satu kegiatan politis; sejak jaman kuno tidak pernah ada perang yang tidak memiliki karakter politis.” Jadi manuver politik dalam kasus Century juga bisa dikatakan bagian dari sebuah peperangan.

Perang harus dipersiapkan dan direncanakan dengan menggunakan perhitungan-perhitungan yang cermat dan rasional. Perang (war) berbeda dengan pertempuran (battle) apalagi sekedar perkelahian (fight). Dimensi Perang pun sangat luas. Waktu yang dibutuhkan bukanlah dalam hitungan hari atau bulan, tetapi bisa jadi dengan ukuran tahun atau bahkan generasi. Semua peperangan, khususnya yang berlangsung lama, memerlukan dukungan politik rakyat serta kesepakatan dimana dalam hal ini perang membawa nama rakyat. Dukungan politik rakyat inilah yang diharapkan mencapai klimaksnya pada 2014.

Sun Tzu memberikan titik berat pada intelijen, pengelabuhan, dan pendekatan tidak langsung kepada musuh sebagai cara yang paling efektif untuk memenangkan peperangan. “Semua peperangan didasarkan pada pengelabuhan (deception). Sesuatu yang harus dibangun untuk sebuah perang adalah sebuah intelijen yang sempurna, sehingga kita dapat membuat rencana dengan pasti……Jika kita tahu segala sesuatu tentang musuh kita maka kita akan menjadi lega. Kita harus bekerja lebih keras dalam pengolahan data daripada hal-hal yang lain.”.

Kasus Century benar-benar dimanfaatkan Golkar (plus PDIP) untuk memperoleh “amunisi“ dalam perang panjang menuju 2014. Meskipun masih malu-malu, partai-partai koalisi siap memanfaatkan momentum atau opportunity untuk memperoleh keuntungan. Tidak ada kawan yang abadi dalam dunia politik. Kekuatan politik akan berpihak pada siapapun yang akan menguntungkan mereka.

Sri Mulyani adalah tangan kanan SBY. Secara jangka panjang, dengan “menyerang“ dan “melukai“ Sri Mulyani sama artinya dengan melukai SBY. Jadi meskipun pada akhirnya nanti kasus Century tidak mampu melumpuhkan SBY- Boediono-Sri Mulyani, namun minimal mampu “melukai”. Luka inilah yang akan dijadikan amunisi pada 2014 nanti. Meskipun SBY tidak bisa terjun langsung dalam pemilu 2014, namun SBY tetap akan menjadi mesin penghasil suara rakyat.

Kemungkinan besar, setelah Kasus Century surut setelah 2-3 bulan, akan muncul “mainan“ baru yaitu momentum pelaksanaan program 100 hari SBY. Ganyang Mafia Hukum yang menjadi prioritas utama program 100 hari SBY akan menjadi sasaran paling empuk. Satgas Mafia Hukum yang belum jelas bentuk dan programnya akan sulit merealisasikan program Ganyang Mafia Hukum. Mafia Hukum yang telah menggurita dan mendarah daging, sulit diberantas dalam waktu singkat dan dengan cara-cara biasa. Perlu terobosan-terobosan hukum dan manuver-manuver luar biasa untuk menunjukkan kinerja maksimal dalam 100 hari. Minimal membuat efek kejut (Shock Therapy) yang bisa meyakinkan publik. Tanpa itu, Program Ganyang Mafia Hukum hanya akan menjadi bulan-bulanan kekuatan-kekuatan politik.

Di sisi lain, Demokrat dan SBY bukannya berdiam diri. Jika melihat manuver-manuver SBY dalam beberapa bulan terakhir, SBY sebenarnya sudah melakukannya dengan baik dan cerdas.

Sebagian besar publik menilai SBY tidak tegas, peragu, atau tidak cepat dalam mengambil keputusan. Banyak sekali contoh yang bisa diberikan, namun kasus “Double BC” (Bibit-Chandra dan Bank Century) menunjukkan hal tersebut. Inilah sisi kelemahan SBY.

Sisi kelemahan SBY tersebut justru bisa menjadi kekuatannya jika dilihat dari sisi sebaliknya. Di sinilah justru kecanggihan SBY dalam mengambil keputusan. SBY mampu menyelam-menyelam-dan menyelam lebih dalam, untuk kemudian muncul dengan membuat keputusan yang tepat. Kadang kala, SBY membuat pancingan-pancingan sehingga banyak pihak yang terpancing dan masuk dalam skenario SBY.

Peristiwa pertama adalah pemberantasan terorisme sesaat setelah pengeboman Hotel JW Marriot dan Ritz Charlton. Pengeboman kedua hotel tersebut terjadi menjelang pelantikan SBY dan Boediono sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2009-2014. Peristiwa tersebut dimanfaatkan SBY dengan baik dengan memberi peringatan kepada siapapun yang ingin mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat.

Peristiwa kedua adalah RUU Pengadilan Tipikor. SBY tampaknya sengaja membiarkan Departemen Hukum dan HAM yang menjadi wakil pemerintah dan DPR sama-sama terkesan ingin memangkas kewenangan KPK. Protes yang cukup keras dari aktivis antikorupsi dan ekspose cukup besar terhadap upaya-upaya pengkerdilan peran KPK, membuat posisi DPR dan Pemerintah menjadi terdesak. Di saat genting, SBY menjadi hero ketika menyatakan dukungannya kepada KPK dan tidak setuju dengan upaya pengkerdilan KPK. Pada akhirnya UU Pengadilan Tipikor menjadi happy ending akibat manuver SBY yang cantik.

Peristiwa ketiga adalah Perpu Plt Pimpinan KPK. Pemberhentian sementara kepada 3 orang pimpinan KPK menimbulkan polemik hukum. Perdebatan masalah pengertian kolegial dalam pengambilan keputusan di KPK menjadi polemik tak berkesudahan. Secara tidak langsung, hal ini menyebabkan menurunnya spirit personil KPK, sehingga kinerjanya terlihat melambat (hampir tidak ada kasus yang muncul di permukaan pada periode tersebut). Kemudian SBY berani mengambil terobosan/ manuver dengan menerbitkan Perpu Plt. Pimpinan KPK. Meskipun menimbulkan perdebatan hukum dan politik, namun langkah SBY tersebut terbukti mampu mengatasi masalah dengan cemerlang.

Peristiwa keempat adalah kasus Bibit-Chandra. Ini merupakan salah satu masalah terberat di awal-awal pemerintahan SBY jilid II. Polemik ini menyita waktu 3 bulan dengan suhu politik yang sangat panas. Kekuatan publik muncul dan menguat dengan cepat, meskipun kekuatan politis tidak muncul. Facebooker bergerak sangat cepat mendukung Bibit-Chandra. Potensi “people power“ bisa muncul dalam kasus Bibit-Chandra ini jika dibiarkan terus menggelinding tanpa ada solusi yang tepat. Kembali, pada saat yang tepat, SBY mampu menyelesaikan kasus ini dengan baik. SBY kembali menjadi hero.

Peristiwa kelima adalah RPP Penyadapan. Peristiwa ini menyelinap masuk dibalik hiruk-pikuk kasus BC Jilid II. Peristiwa ini muncul sebagai upaya memecah konsentrasi publik dalam kasus BC Jilid II (Bank Century). Caci-maki publik dan aktivis antikorupsi atas langkah Tifatul Sembiring memunculkan kembali kecurigaan untuk memangkas kemampuan KPK yang sudah terbukti efektif dalam memberantas korupsi. Sebagaimana kasus RUU Pengadilan Tipikor, kemungkinan besar RPP Penyadapan akan bernasib sama, yaitu pada saat yang tepat, SBY akan muncul menjadi hero. Dalam kasus ini, Tifatul Sembiring hanya boneka (korban) permainan politik (perang intelijen) seperti halnya Menhukham dan DPR pada periode sebelumnya.

Peristiwa keenam adalah kasus Bank Century. Kasus BC jilid II (Bank Century) ini bisa jadi lebih berbahaya dari kasus BC Jilid I (Bibit-Chandra) akibat belum sembuhnya luka publik atas “kriminalisasi“ Bibit-Chandra dan ditambah manuver politik yang luar biasa dari Parlemen. Jika pada kasus BC jilid I, SBY mampu mengukur kekuatan rakyat (publik), maka pada kasus BC Jilid II, SBY mencoba mengukur kekuatan politik. Kekuatan politik meskipun secara kuantitas lebih kecil (dibanding dengan rakyat), namun bisa jauh lebih berbahaya karena secara kualitatif mempunyai kekuatan riil untuk membuat headline dan mempengaruhi massa yang lebih besar. Meskipun kemungkinan Sri Mulyani dan Boediono menjadi korban dalam kasus ini sangat kecil, namun SBY telah memperhitungkan kemungkinan terburuk tersebut untuk “mengorbankan” mereka berdua, bila situasinya mengharuskan untuk itu (sebagaimana SBY berani “mengorbankan” besannya). Namun SBY juga melihat peluang untuk memperkuat posisinya dengan “mempermalukan“ politikus “kritis“ dan kekuatan partai politik yang mencoba peruntungannya dengan memanfaatkan kasus Century.

Manuver-manuver SBY di atas bisa berakibat fatal pada 2014 jika tidak diantisipasi oleh Golkar cs. Kasus Century merupakan peluang Golkar cs untuk balik “menyerang”. Perang Intelijen akan terus berlangsung. Orang-orang yang dikenal kredibel dan terpercaya seperti Sri Mulyani bisa menjadi korban di tengah perang Intelijen jika tidak mampu “bermain cantik”. Wallahu ‘alam Bish-Shawabi


Selengkapnya...

Peran Intelijen dalam Menumpas Teror

Data Buku:
Judul Buku: Intelijen Bertawaf
Pak Pray: Prayitno Ramelan
Penerbit: Grasindo
Cetakan: I, 2009
Halaman: xxxviii + 227 halaman

Melihat sampul buku, dengan tulisan “Intelijen” berwarna hitam, seolah menggambarkan dunia intelijen yang banyak bergerak dengan senyap ditelan gelap. Yang lebih mencengangkan lagi, tulisan “Bertawaf” diberi warna merah darah yang menggambarkan penggunaan “simbol-simbol keagamaan” untuk melakukan aksi berdarah. Hal ini diperkuat dengan adanya kalimat,”Teroris Malaysia dalam Kupasan“. Teroris selalu identik dengan teror menakutkan dengan tumpahan darah. Background sampul berupa peta gugus Kepulauan Melayu seolah menunjukkan palagan tempat teroris beraksi dan berasal. Sampul dan judul buku ini sungguh eye catching.

Buku ini tidak disusun secara kronologis sesuai postingan Pak Pray di Kompasiana.com, namun disusun secara sistematis dan terstruktur yang mencerminkan pandangan Pak Pray untuk melihat manuver teroris pimpinan Noordin M. Top dari kacamata intelijen.

Pada halaman pertama, Pepih Nugraha, sang editor, dengan cerdik menampilkan tulisan berjudul,“Pengalaman Berlatih, Kostrad dan Ranger Malaysia“. Dalam tulisan ini Pak Pray menuliskan pengalaman buruknya bekerjasama dengan militer Malaysia. Pepih mengomentari tulisan ini,“Dan yang cukup tidak terduga, Prayitno membocorkan rahasia militer saat masih aktif di Angkatan Udara, yang antara lain saat melakukan latihan bersama Malaysia“ (hal. xxix). “Blunder” Pak Pray yang “dikuatirkan” Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim dalam pengantarnya, dimanfaatkan Pepih dengan menempatkannya di halaman pertama sebagai triks untuk menarik minat pembaca menyelami buku ini lebih lanjut. Artikel tersebut sudah pasti akan menarik pembaca awam intelijen, seperti saya.

Tulisan Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono, mantan Kepala BIN, dalam pengantar buku ini jangan sampai dilewatkan. Pak Pray menyatakan bahwa Hendro adalah pakar terorisme yang sebenarnya mengingat pengalaman dan pendidikannya. Hendro menyebut bahwa Noordin M. Top dan Azahari ibarat daun-daun, sedangkan Jamaah Islamiyah ibarat batangnya. Meskipun telah ditebang oleh Densus 88 dan satuan-satuan intelijen nasional, maka bukan berarti terorisme telah usai. Hal ini disebabkan karena akar terorisme yaitu ideologi politik Islam Fundamentalis, bukan Agama Islam, masih tumbuh subur (hal. xiii). Pendapat Hendro ini senada dengan pendapat Pak Pray sebagaimana tulisannya yang dibuat pasca tertembaknya Noordin M. Top yang berjudul,” Sebuah Analisis Setelah Noordin Tewas”, ” Setelah Gembong Ditembak, Teroris Bisa Membalas”, ” Noordin, Tiga Istri, dan Syaifudin”, dan ” Awas, Teroris Dilepas di Malaysia”.

Sebagai salah seorang masterspy, Pak Pray mampu menggambarkan akar permasalahan penyebab munculnya teroris sekaligus memberikan solusi “counter terorism“. Pak Pray melihat adanya motif politik dari teroris ketika menyerang kepentingan Amerika Serikat (AS) di Indonesia. Bahkan Pak Pray mampu melihat lebih dalam lagi adanya militansi pelaku yg mau bunuh diri adalah korban “brainwash” yang dilatarbelakangi akidah (keyakinan) (hal. 114). (Lihat: “Teroris Kembali Menyerang Jakarta” dan “Apa Dibalik Bom Marriot dan Ritz Charlton”). Kekerasan yang muncul di Afganistan, Irak, Palestina, dan sebelumnya di Chechnya, Bosnia, hingga Thailand Selatan dan Moro ditempatkan oleh Kaum Jihadis sebagai bukti ketidakadilan peradaban Barat dan AS beserta sekutunya terhadap komunitas Muslim. Berdasar argumen itu gerakan bom mati syahid kemudian berkembang (hal. 221).

Pak Pray dengan teori desepsi menyebut serangan bom bunuhi diri Marriot II ini, seperti pisau bermata dua, menyerang AS dan pemerintah Indonesia. Mulai tahun 2009, target tidak hanya pada kepentingan AS, tetapi juga mulai menjadikan SBY sebagai target. Ini menunjukkan bahwa Noordin M. Top masuk link up dengan kelompok lokal lainnya, seperti NII, Kelompok Poso, sehingga kedua target internasional dan lokal digarapnya bersama-sama. (140-141). Dalam tulisan,”Noordin Mengincar Cikeas”, Pak Pray melempar pertanyaan,”kenapa dia kini membenci simbol Indonesia?”

Dengan mengutip pendapat Kombes Tito Karnavian (anggota Tim Antiteror Polri), bahwa Indonesia menjadi target karena dianggap memfasilitasi atau mempromosikan demokrasi yang diperjuangkan negara-negara Barat, maka pertanyaan yang dilempar Pak Pray di atas seolah mendapat jawabannya. Namun demikian Pak Pray melihat bahwa yang disasar (menjadi target) teroris hanya simbol negara (presiden), bukan sasaran masif seperti pasar dan stasiun kereta api. Hal ini merupakan upaya teroris menghindari menjadi musuh bersama masyarakat. Namun dalam bagian akhir tulisannya, pak Pray tetap mengingatkan kemungkinan perubahan strategi (target) dari teroris pasca Noordin tewas.

Salah satu hal menarik di buku ini adalah, secara tersirat, Pak Pray berani “menuduh” Malaysia sebagai sponsor dari teroris ini (Nb. baca dengan hati-hati hal 114-115). Pengalaman buruk Pak Pray ketika berhubungan dengan militer Malaysia, pengalaman menjadi calon korban bom Marriot, plus arogansi Malaysia merupakan faktor pendorong munculnya “tuduhan” tersebut. Benarkah demikian?

Malaysia sebagaimana ulasan Pak Pray mampu bertawaf dengan sistematis dan berkesinambungan. Petronas adalah contoh yang telah bertawaf selama 40 tahun sehingga mampu meninggalkan gurunya, Pertamina. Demikian juga dengan kemampuan diplomasi dan strategi Malaysia sehingga mampu merebut Sipadan-Ligitan. Keberanian Malaysia menerapkan ISA (Internal Security Act) juga membuat Malaysia aman dari teror bom, sedangkan Indonesia masih sibuk berdebat sendiri selama 6 tahun (2003-2009) tentang “counter terorism“. Kapal perang TNI AL juga hanya bisa geram, tanpa bisa mengejar, melihat “invasi” kapal perang Diraja Malaysia di sekitar Ambalat. Menurut saya, Malaysia bisa jadi sering lewat di wilayah udara kota Madiun, dimana terdapat skuadron F-16 yang sudah lama tidak bisa jalan karena ketiadaan “sparepart“. Jangankan untuk pesawat tempur, sebagaimana tulisan,”Kisah di Balik Jatuhnya Hercules TNI AU”, biaya maintenance untuk Hercules pun sangat minim. Dengan berbagai kondisi tersebut, pantaskah kita menyalahkan Malaysia yang dengan angkuh mencaplok Sipadatan-Ligitan, mengklaim Tari Pendet, Reog Ponorogo, menyebut TKI/TKW dengan sebutan sinis “Indon“, dan arogansi lainnya?

Solusi mengatasi terorisme di Indonesia diulas Pak Pray dengan jitu pada tulisannya yang berjudul, “Intelijen Bertawaf” (hal. 63-67) dan “Strategi Mengatasi Ancaman Terorisme” (hal. 186-190). Menurut saya, tulisan “Intelijen bertawaf” merupakan masterpiece diantara tulisan-tulisan Pak Pray lainnya. Tulisan ini sangat strategis dan menunjukkan kelas Pak Pray sebagai seorang master. Di sini, Pak Pray menyatakan bahwa Intelijen juga harus bertawaf, bergerak secara terstruktur, sistematik, dan berkesinambungan sebagaimana alam semesta bertawaf. Intelijen bertawaf dengan pola penggalangan, komando-kendali-koordinasi, dan aplikasi teknologi.

Penggalangan pada dasarnya adalah mengkondisikan sesuatu baik terbuka maupun tertutup. Noordin M. Top adalah ahli penggalangan tertutup, spesialis membentuk seseorang menjadi pengantin. Untuk melakukan “counter“, Pak Pray menyatakan perlunya melakukan hal yang sama (me-too strategy). Perlu konsep, “integrated grand strategy” plus dana masif agar frekuensi berkesinambungan. Perlu kejelian identifikasi peluang, sistem, dana dan waktu yg panjang.

Pada tulisan ini, Pak Pray juga mengkritik secara keras media massa yang melakukan penggalangan terbuka yang sayangnya bersifat kontradiktif. Pembentukan opini melalui 150 jam tayangan infotainment yg isinya cuma perselingkuhan, KDRT, dan pamer materialisme. Rakyat juga dihujani film-film pocong dan hantu. Inilah pola-pola penggalangan terbuka, mudah dideteksi, sistematis, dan berkesinambungan. Ini pola “brainwashing“. Dalam konteks ancaman terhadap ketahanan moral dan mental bangsa, ini jelas sangat berbahaya. Oleh karena itu, sang Old Soldier ini mengajak intelijen pro aktif bertawaf dengan memanfaatkan pola penggalangan sistematis dan terstruktur, sehingga ketahanan moral dan mental bangsa Indonesia akan semakin kuat.

Pada tataran taktis, Pak Pray menulis tentang Strategi Mengatasi Ancaman Terorisme. Pertama, penerapan strategi militer. Di sektor militer dilakukan operasi bawah tanah, dengan tekanan yang bertujuan menghancurkan kelompok teroris. Kedua, yaitu strategi politik. Sistem politik harus ditata ulang dalam kaitannya dengan bahaya teror. Pelibatan elit politik agar satu suara dalam penanganan masalah teroris sangat dibutuhkan Ketiga strategi budaya. Pemerintah bersama tokoh-tokoh masyarakat wajib membantu dan menyadarkan generasi muda Islam di tempat-tempat pendidikan agama. (188-189)

Dalam buku ini, di samping mengulas topik utama seperti diuraikan di atas, Pak Pray juga banyak memberi pencerahan tentang ilmu intelijen secara praktis. Oleh karena itu wajar jika banyak orang yang mengatakan bahwa setelah membaca buku ini, masyarakat menjadi “memahami” dunia intelijen yang selama ini dianggap seperti dunia misteri. Hebatnya Pak Pray mengemas ilmu intelijen dalam kemasan peristiwa-peristiwa yang banyak mendapat perhatian publik. Inilah salah satu kekuatan buku ini.

Di era pemilu, Pak Pray mengulas tentang “Perang Intelijen dalam Pilpres”. Di sini Pak Pray menyimpulkan bahwa secara kelembagaan (misalnya, BIN) tidak mungkin terlibat langsung dalam mendukung salah satu pasangan calon, meskipun beliau tidak menafikan kemungkinan secara personal dan/ atau penggunaan ilmu intelijen seperti pembentukan opini, negative campaign, atau black campaign dalam Pilpres. Strategi “telik sandi” era Mataraman juga diulas dengan cantik Pak Pray terkait kemenangan mutlak SBY. Sebuah kupasan yang cerdas meskipun debatable.

Peran intelijen sebagai pemasok informasi intelijen kepada Presiden digambarkan secara ringkas dalam tulisan yang berjudul,” Apa Intelijen Bisa Salah?” dan ” Intelijen, Presiden, dan Keputusan”. Di sini Pak Pray menggambarkan bagaimana peran vital intelijen dalam pengambilan keputusan presiden. Kesalahan intelijen bisa mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Garbage In Garbage Out. Kasus kegagalan intelijen AS dalam mendeteksi Senjata Penghancur Massal (SPM) Irak, mengakibatkan AS kehilangan 4.265 prajuritnya dan menanggung biaya (anggaran) USD 694 miliar. Ini merupakan contoh tepat untuk menggambarkan peran vital intelijen dalam pengambilan keputusan presiden.

Peristiwa-peritiswa lain yang diulas Pak Pray, dengan ilmu intelijen, adalah Kontroversi keterlibatan Adam Malik sebagai agen CIA; perlunya tindakan pengamanan pada KPK yang ditulis dengan judul yang sangat menggoda,”Kenapa Rani Disadap”. Tidak lupa Pak Pray, sebagai mantan penasehat Menhan, juga mengulas tentang Departemen Pertahanan dan kualitas Purnomo sebagai Menteri Pertahanan dalam,”Dephan dan Menhan Purnomo Yusgiantoro”. Tulisan dengan perspektif intelijen ini memang masih jarang ditemui, dan Pak Pray mampu memenuhi rasa haus masyarakat tersebut.

Kekuatan lain dari buku ini adalah komentar-komentar pembaca dari beragam kalangan. Dalam menanggapi komentar-komentar tersebut, Pak Pray selalu bersikap wise, khas seorang empu yang banyak makan asam garam. Dengan jiwa besar, Pak Pray mau menerima berbagai komentar yang masuk. Sikap mau menerima perbedaan dapat dilihat ketika membalas komentar Putra Fajar yang keberatan Megawati disamakan dengan manusia dengan tipe manajer (hal. 43). Pak Pray mengatakan,”berbeda pendapat atau teori adalah lumrah, apalagi di bidang yg bukan ilmu pasti seperti matematika.” Komentar-komentar dari masing-masing artikel membuat pembaca mendapatkan bonus berupa sudut pandang dari berbagai macam profesi, sehingga tidak salah jika Chappy Hakim menyarankan para menteri agar tidak perlu mengangkat staf ahli, namun cukup menyimak berbagai ulasan di kompasiana.

Sebagai awam di dunia intelijen, saya kurang percaya diri untuk mengkritisi artikel-artikel Pak Pray. Namun catatan penting yang perlu diberikan pada buku ini ialah buku setebal 265 halaman ini kurang fokus menyoroti peran intelijen dalam memberantas teror bom yang dilakukan Noordin M. Top dan kawan-kawan sebagaimana tercermin dalam judul buku. Dengan kata lain, topik utama tercampur dengan topik-topik lain yang kurang pas jika digabung dalam satu buku. Beragamnya topik yang dibahas membuat pembaca bisa kebingungan jika tidak berkonsentrasi dalam membaca dan memahami inti permasalahan. Idealnya topik lain seperti analisis politik seorang Prayitno dibuat tersendiri, sebagaimana diisyaratkan Pepih Nugraha. Satu lagi adalah miskinnya ilustrasi grafis pada buku ini. Pembaca hanya disuguhi teks tanpa gambar/ilustrasi.

Saya menantikan buku-buku Pak Pray berikutnya. Saya yakin masyarakat juga menantikan penerbitan buku-buku bermutu tentang dunia intelijen, terutama yang ditulis oleh para masterspy sekelas Pak Pray. Semoga Allah SWT membalas amal kebajikan Pak Pray. Amin dan Salam Kompasiana.

Selengkapnya...