Search Engine

Sabtu, 20 Maret 2010

Peran Intelijen dalam Menumpas Teror

Data Buku:
Judul Buku: Intelijen Bertawaf
Pak Pray: Prayitno Ramelan
Penerbit: Grasindo
Cetakan: I, 2009
Halaman: xxxviii + 227 halaman

Melihat sampul buku, dengan tulisan “Intelijen” berwarna hitam, seolah menggambarkan dunia intelijen yang banyak bergerak dengan senyap ditelan gelap. Yang lebih mencengangkan lagi, tulisan “Bertawaf” diberi warna merah darah yang menggambarkan penggunaan “simbol-simbol keagamaan” untuk melakukan aksi berdarah. Hal ini diperkuat dengan adanya kalimat,”Teroris Malaysia dalam Kupasan“. Teroris selalu identik dengan teror menakutkan dengan tumpahan darah. Background sampul berupa peta gugus Kepulauan Melayu seolah menunjukkan palagan tempat teroris beraksi dan berasal. Sampul dan judul buku ini sungguh eye catching.

Buku ini tidak disusun secara kronologis sesuai postingan Pak Pray di Kompasiana.com, namun disusun secara sistematis dan terstruktur yang mencerminkan pandangan Pak Pray untuk melihat manuver teroris pimpinan Noordin M. Top dari kacamata intelijen.

Pada halaman pertama, Pepih Nugraha, sang editor, dengan cerdik menampilkan tulisan berjudul,“Pengalaman Berlatih, Kostrad dan Ranger Malaysia“. Dalam tulisan ini Pak Pray menuliskan pengalaman buruknya bekerjasama dengan militer Malaysia. Pepih mengomentari tulisan ini,“Dan yang cukup tidak terduga, Prayitno membocorkan rahasia militer saat masih aktif di Angkatan Udara, yang antara lain saat melakukan latihan bersama Malaysia“ (hal. xxix). “Blunder” Pak Pray yang “dikuatirkan” Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim dalam pengantarnya, dimanfaatkan Pepih dengan menempatkannya di halaman pertama sebagai triks untuk menarik minat pembaca menyelami buku ini lebih lanjut. Artikel tersebut sudah pasti akan menarik pembaca awam intelijen, seperti saya.

Tulisan Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono, mantan Kepala BIN, dalam pengantar buku ini jangan sampai dilewatkan. Pak Pray menyatakan bahwa Hendro adalah pakar terorisme yang sebenarnya mengingat pengalaman dan pendidikannya. Hendro menyebut bahwa Noordin M. Top dan Azahari ibarat daun-daun, sedangkan Jamaah Islamiyah ibarat batangnya. Meskipun telah ditebang oleh Densus 88 dan satuan-satuan intelijen nasional, maka bukan berarti terorisme telah usai. Hal ini disebabkan karena akar terorisme yaitu ideologi politik Islam Fundamentalis, bukan Agama Islam, masih tumbuh subur (hal. xiii). Pendapat Hendro ini senada dengan pendapat Pak Pray sebagaimana tulisannya yang dibuat pasca tertembaknya Noordin M. Top yang berjudul,” Sebuah Analisis Setelah Noordin Tewas”, ” Setelah Gembong Ditembak, Teroris Bisa Membalas”, ” Noordin, Tiga Istri, dan Syaifudin”, dan ” Awas, Teroris Dilepas di Malaysia”.

Sebagai salah seorang masterspy, Pak Pray mampu menggambarkan akar permasalahan penyebab munculnya teroris sekaligus memberikan solusi “counter terorism“. Pak Pray melihat adanya motif politik dari teroris ketika menyerang kepentingan Amerika Serikat (AS) di Indonesia. Bahkan Pak Pray mampu melihat lebih dalam lagi adanya militansi pelaku yg mau bunuh diri adalah korban “brainwash” yang dilatarbelakangi akidah (keyakinan) (hal. 114). (Lihat: “Teroris Kembali Menyerang Jakarta” dan “Apa Dibalik Bom Marriot dan Ritz Charlton”). Kekerasan yang muncul di Afganistan, Irak, Palestina, dan sebelumnya di Chechnya, Bosnia, hingga Thailand Selatan dan Moro ditempatkan oleh Kaum Jihadis sebagai bukti ketidakadilan peradaban Barat dan AS beserta sekutunya terhadap komunitas Muslim. Berdasar argumen itu gerakan bom mati syahid kemudian berkembang (hal. 221).

Pak Pray dengan teori desepsi menyebut serangan bom bunuhi diri Marriot II ini, seperti pisau bermata dua, menyerang AS dan pemerintah Indonesia. Mulai tahun 2009, target tidak hanya pada kepentingan AS, tetapi juga mulai menjadikan SBY sebagai target. Ini menunjukkan bahwa Noordin M. Top masuk link up dengan kelompok lokal lainnya, seperti NII, Kelompok Poso, sehingga kedua target internasional dan lokal digarapnya bersama-sama. (140-141). Dalam tulisan,”Noordin Mengincar Cikeas”, Pak Pray melempar pertanyaan,”kenapa dia kini membenci simbol Indonesia?”

Dengan mengutip pendapat Kombes Tito Karnavian (anggota Tim Antiteror Polri), bahwa Indonesia menjadi target karena dianggap memfasilitasi atau mempromosikan demokrasi yang diperjuangkan negara-negara Barat, maka pertanyaan yang dilempar Pak Pray di atas seolah mendapat jawabannya. Namun demikian Pak Pray melihat bahwa yang disasar (menjadi target) teroris hanya simbol negara (presiden), bukan sasaran masif seperti pasar dan stasiun kereta api. Hal ini merupakan upaya teroris menghindari menjadi musuh bersama masyarakat. Namun dalam bagian akhir tulisannya, pak Pray tetap mengingatkan kemungkinan perubahan strategi (target) dari teroris pasca Noordin tewas.

Salah satu hal menarik di buku ini adalah, secara tersirat, Pak Pray berani “menuduh” Malaysia sebagai sponsor dari teroris ini (Nb. baca dengan hati-hati hal 114-115). Pengalaman buruk Pak Pray ketika berhubungan dengan militer Malaysia, pengalaman menjadi calon korban bom Marriot, plus arogansi Malaysia merupakan faktor pendorong munculnya “tuduhan” tersebut. Benarkah demikian?

Malaysia sebagaimana ulasan Pak Pray mampu bertawaf dengan sistematis dan berkesinambungan. Petronas adalah contoh yang telah bertawaf selama 40 tahun sehingga mampu meninggalkan gurunya, Pertamina. Demikian juga dengan kemampuan diplomasi dan strategi Malaysia sehingga mampu merebut Sipadan-Ligitan. Keberanian Malaysia menerapkan ISA (Internal Security Act) juga membuat Malaysia aman dari teror bom, sedangkan Indonesia masih sibuk berdebat sendiri selama 6 tahun (2003-2009) tentang “counter terorism“. Kapal perang TNI AL juga hanya bisa geram, tanpa bisa mengejar, melihat “invasi” kapal perang Diraja Malaysia di sekitar Ambalat. Menurut saya, Malaysia bisa jadi sering lewat di wilayah udara kota Madiun, dimana terdapat skuadron F-16 yang sudah lama tidak bisa jalan karena ketiadaan “sparepart“. Jangankan untuk pesawat tempur, sebagaimana tulisan,”Kisah di Balik Jatuhnya Hercules TNI AU”, biaya maintenance untuk Hercules pun sangat minim. Dengan berbagai kondisi tersebut, pantaskah kita menyalahkan Malaysia yang dengan angkuh mencaplok Sipadatan-Ligitan, mengklaim Tari Pendet, Reog Ponorogo, menyebut TKI/TKW dengan sebutan sinis “Indon“, dan arogansi lainnya?

Solusi mengatasi terorisme di Indonesia diulas Pak Pray dengan jitu pada tulisannya yang berjudul, “Intelijen Bertawaf” (hal. 63-67) dan “Strategi Mengatasi Ancaman Terorisme” (hal. 186-190). Menurut saya, tulisan “Intelijen bertawaf” merupakan masterpiece diantara tulisan-tulisan Pak Pray lainnya. Tulisan ini sangat strategis dan menunjukkan kelas Pak Pray sebagai seorang master. Di sini, Pak Pray menyatakan bahwa Intelijen juga harus bertawaf, bergerak secara terstruktur, sistematik, dan berkesinambungan sebagaimana alam semesta bertawaf. Intelijen bertawaf dengan pola penggalangan, komando-kendali-koordinasi, dan aplikasi teknologi.

Penggalangan pada dasarnya adalah mengkondisikan sesuatu baik terbuka maupun tertutup. Noordin M. Top adalah ahli penggalangan tertutup, spesialis membentuk seseorang menjadi pengantin. Untuk melakukan “counter“, Pak Pray menyatakan perlunya melakukan hal yang sama (me-too strategy). Perlu konsep, “integrated grand strategy” plus dana masif agar frekuensi berkesinambungan. Perlu kejelian identifikasi peluang, sistem, dana dan waktu yg panjang.

Pada tulisan ini, Pak Pray juga mengkritik secara keras media massa yang melakukan penggalangan terbuka yang sayangnya bersifat kontradiktif. Pembentukan opini melalui 150 jam tayangan infotainment yg isinya cuma perselingkuhan, KDRT, dan pamer materialisme. Rakyat juga dihujani film-film pocong dan hantu. Inilah pola-pola penggalangan terbuka, mudah dideteksi, sistematis, dan berkesinambungan. Ini pola “brainwashing“. Dalam konteks ancaman terhadap ketahanan moral dan mental bangsa, ini jelas sangat berbahaya. Oleh karena itu, sang Old Soldier ini mengajak intelijen pro aktif bertawaf dengan memanfaatkan pola penggalangan sistematis dan terstruktur, sehingga ketahanan moral dan mental bangsa Indonesia akan semakin kuat.

Pada tataran taktis, Pak Pray menulis tentang Strategi Mengatasi Ancaman Terorisme. Pertama, penerapan strategi militer. Di sektor militer dilakukan operasi bawah tanah, dengan tekanan yang bertujuan menghancurkan kelompok teroris. Kedua, yaitu strategi politik. Sistem politik harus ditata ulang dalam kaitannya dengan bahaya teror. Pelibatan elit politik agar satu suara dalam penanganan masalah teroris sangat dibutuhkan Ketiga strategi budaya. Pemerintah bersama tokoh-tokoh masyarakat wajib membantu dan menyadarkan generasi muda Islam di tempat-tempat pendidikan agama. (188-189)

Dalam buku ini, di samping mengulas topik utama seperti diuraikan di atas, Pak Pray juga banyak memberi pencerahan tentang ilmu intelijen secara praktis. Oleh karena itu wajar jika banyak orang yang mengatakan bahwa setelah membaca buku ini, masyarakat menjadi “memahami” dunia intelijen yang selama ini dianggap seperti dunia misteri. Hebatnya Pak Pray mengemas ilmu intelijen dalam kemasan peristiwa-peristiwa yang banyak mendapat perhatian publik. Inilah salah satu kekuatan buku ini.

Di era pemilu, Pak Pray mengulas tentang “Perang Intelijen dalam Pilpres”. Di sini Pak Pray menyimpulkan bahwa secara kelembagaan (misalnya, BIN) tidak mungkin terlibat langsung dalam mendukung salah satu pasangan calon, meskipun beliau tidak menafikan kemungkinan secara personal dan/ atau penggunaan ilmu intelijen seperti pembentukan opini, negative campaign, atau black campaign dalam Pilpres. Strategi “telik sandi” era Mataraman juga diulas dengan cantik Pak Pray terkait kemenangan mutlak SBY. Sebuah kupasan yang cerdas meskipun debatable.

Peran intelijen sebagai pemasok informasi intelijen kepada Presiden digambarkan secara ringkas dalam tulisan yang berjudul,” Apa Intelijen Bisa Salah?” dan ” Intelijen, Presiden, dan Keputusan”. Di sini Pak Pray menggambarkan bagaimana peran vital intelijen dalam pengambilan keputusan presiden. Kesalahan intelijen bisa mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Garbage In Garbage Out. Kasus kegagalan intelijen AS dalam mendeteksi Senjata Penghancur Massal (SPM) Irak, mengakibatkan AS kehilangan 4.265 prajuritnya dan menanggung biaya (anggaran) USD 694 miliar. Ini merupakan contoh tepat untuk menggambarkan peran vital intelijen dalam pengambilan keputusan presiden.

Peristiwa-peritiswa lain yang diulas Pak Pray, dengan ilmu intelijen, adalah Kontroversi keterlibatan Adam Malik sebagai agen CIA; perlunya tindakan pengamanan pada KPK yang ditulis dengan judul yang sangat menggoda,”Kenapa Rani Disadap”. Tidak lupa Pak Pray, sebagai mantan penasehat Menhan, juga mengulas tentang Departemen Pertahanan dan kualitas Purnomo sebagai Menteri Pertahanan dalam,”Dephan dan Menhan Purnomo Yusgiantoro”. Tulisan dengan perspektif intelijen ini memang masih jarang ditemui, dan Pak Pray mampu memenuhi rasa haus masyarakat tersebut.

Kekuatan lain dari buku ini adalah komentar-komentar pembaca dari beragam kalangan. Dalam menanggapi komentar-komentar tersebut, Pak Pray selalu bersikap wise, khas seorang empu yang banyak makan asam garam. Dengan jiwa besar, Pak Pray mau menerima berbagai komentar yang masuk. Sikap mau menerima perbedaan dapat dilihat ketika membalas komentar Putra Fajar yang keberatan Megawati disamakan dengan manusia dengan tipe manajer (hal. 43). Pak Pray mengatakan,”berbeda pendapat atau teori adalah lumrah, apalagi di bidang yg bukan ilmu pasti seperti matematika.” Komentar-komentar dari masing-masing artikel membuat pembaca mendapatkan bonus berupa sudut pandang dari berbagai macam profesi, sehingga tidak salah jika Chappy Hakim menyarankan para menteri agar tidak perlu mengangkat staf ahli, namun cukup menyimak berbagai ulasan di kompasiana.

Sebagai awam di dunia intelijen, saya kurang percaya diri untuk mengkritisi artikel-artikel Pak Pray. Namun catatan penting yang perlu diberikan pada buku ini ialah buku setebal 265 halaman ini kurang fokus menyoroti peran intelijen dalam memberantas teror bom yang dilakukan Noordin M. Top dan kawan-kawan sebagaimana tercermin dalam judul buku. Dengan kata lain, topik utama tercampur dengan topik-topik lain yang kurang pas jika digabung dalam satu buku. Beragamnya topik yang dibahas membuat pembaca bisa kebingungan jika tidak berkonsentrasi dalam membaca dan memahami inti permasalahan. Idealnya topik lain seperti analisis politik seorang Prayitno dibuat tersendiri, sebagaimana diisyaratkan Pepih Nugraha. Satu lagi adalah miskinnya ilustrasi grafis pada buku ini. Pembaca hanya disuguhi teks tanpa gambar/ilustrasi.

Saya menantikan buku-buku Pak Pray berikutnya. Saya yakin masyarakat juga menantikan penerbitan buku-buku bermutu tentang dunia intelijen, terutama yang ditulis oleh para masterspy sekelas Pak Pray. Semoga Allah SWT membalas amal kebajikan Pak Pray. Amin dan Salam Kompasiana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar